Enggak Perlu Ritual Aneh untuk Lulus UN
Di Jombang, siswa sebuah madrasah aliyah (MA) menjampi-jampi pensil yang akan mereka gunakan untuk ujian. Tujuannya sama, mengharap kelancaran saat UN.
Dua ilustrasi itu hanya sedikit contoh dari berbagai ritual aneh yang dilakukan siswa ketika menghadapi ujian penentuan kelulusan. Padahal, dilihat secara nalar, kegiatan tersebut tidak masuk akal.
Menurut Wakil Kepala SMA Plus PGRI Cibinong, Agus Rohiman, meski tegang menghadapi ujian, siswa sebaiknya tidak melakukan hal-hal aneh. Sebaiknya, guru dan orangtua memberi penjelasan dan membuat siswa sadar bahwa usaha tidak rasional seperti itu tidak perlu dan tidak ada artinya.
"Berdzikir boleh, karena itu cara kita meminta kepada Tuhan. Tetapi ritual-ritual seperti tadi adalah simbol ketidakyakinan siswa mengerjakan UN," ujar Agus, ketika dihubungi Okezone, Jumat (7/3/2014).
Agus mengimbuhkan, sekolahnya mempersiapkan siswa dalam menghadapi UN secara intensif dan terukur. Sekolah, tegasnya, menjaga agar semua persiapan tersebut tetap rasional.
"Selain pendalaman materi dan try out, kami rutin menggelar training motivasi agar siswa tidak tegang menghadapi UN," imbuhnya.
Hal serupa dilakukan siswa SMAN 8 Jakarta. Sang Wakil Kepala Sekolah, Waridin, mengungkapkan, ritual-ritual tadi merupakan bentuk persiapan yang tidak rasional. Sementara di sekolahnya, siswa diberikan pendekatan religius di samping persiapan akademis.
Siswa SMAN 8 Jakarta rutin diajak berdoa bersama agar tenang menghadapi UN. Bahkan, biasanya, pagi hari sebelum UN dimulai, siswa dikumpulkan di lapangan dan dibimbing guru untuk berdoa.
"Ini juga cara kami untuk memastikan siswa enggak telat masuk ruangan ujian," tuturnya. (rfa)
{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }
Posting Komentar